Sunday, December 8, 2013

Pupuh Mijil

Pupuh Mijil terdiri dari 6 baris berpola rima i, o, e, i, i, u

Baris pertama, 10i
Baris kedua, 6o
Baris ketiga, 10e
Baris keempat, 10i
Baris kelima, 6i
Baris keenam, 6u


Contoh Pupuh Mijil

Mesat ngapung putra sang Arimbi,
Jeung mega geus awor,
Beuki lila beuki luhur bae,
Larak lirik ningali ka bumi,
Milari kang rai,
Pangeran Bimanyu.


Source

Saturday, December 7, 2013

Tradisi Bali: Mekepung


Sejarah Tradisi / Atraksi Mekepung di Jembrana Bali dikembangkan pertama kali sekitar tahun 1930 dengan joki berpakaian seperti prajurit istana. Mereka bertelanjang kaki, mengenakan gaun kepala, syal, rompi, dan celana panjang dengan pedang yang dibungkus kain bermotif kotak-kotak di pinggang. Karena pakaian joki yang dikenakan selalu kotor setelah mekepung di sawah berlumpur, maka mereka pindah ke jalan tanah dekat sawah.

Mekepung juga berarti kejar-kejaran, inspirasi berasal dari kegiatan petani pengolahan sawah mereka sebelum mereka menanam benih padi yang bajak lahan basah ke dalam lumpur dengan menggunakan bajak tradisional.

Bajak ditarik oleh dua ekor kerbau, kerbau mengenakan alat dekoratif seperti lonceng kayu, sehingga ketika kerbau berjalan menarik bajak akan terdengar suara seperti musik.
..... demikian sejarahnya yang dikutip dalam artikel : the scootelove, daerah asal Kabupaten Jembrana.
Juga ditambahkan, asal usul dari tradisi makepung ini tidak menggunakan sapi, menurut cerita yang dikutip dari halaman Pariwisata Bali: mekepung, karena sapi merupakan hewan yang disucikan oleh masyarakat Hindu Bali, maka mereka memilih menggunakan kerbau sebagai hewan pekerja dan tunggangan. Tradisi makepung ini sangat populer di Jembaran, di bagian barat Pulau Bali.



Nama-nama Anak Binatang (dalam Bahasa Bali)

Panak meong: tai


Panak bebek: memeri


Panak bojog: wanara


Panak kuluk: konyong


Panak bangkung: kucit


Panak jaran: bebedag


Panak penyu: tukik


Panak siap: pitik


Panak bikul: nyingnying


Panak sampi: godel


Panak katak: becing


Panak udang: katetes


Panak yuyu: kaunyali


Tuesday, September 10, 2013

Sejarah Barong Landung



Sejarah dari Barong Landung merupakan perwujudan dari raja Bali yaitu Raja Jaya Pangus yang memperistrikan seorang Putri Cina bernama Kang Cing Wei. Raja Jaya Pangus diwujudkan dalam Barong Landung ditokohkan dengan boneka besar hitam dan giginya ronggoh, sedangkan putri Kang Cing Wei ditokohkan dengan boneka cantik tinggi langsing bermata sipit dan selalu tersenyum mirip dengan roman muka seorang Cina. Raja Jaya Pangus yang bertahta di Pejeng yang tidak diketahui di Bali pada jaman paparaton dari dinasti Warmadewa, didampingi oleh seorang Bhagawan yang sakti dan bijaksana bernama Empu Siwagana. Perkawinan Raja Jaya Pangus dengan Putri Cina sudah terjadi tetapi Sang Hyang Bhagawanta tidak merestui perkawinan itu. Sri Jaya Pangus dituduh telah melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei itu. Empu Siwagana lalu menghukum Raja Jaya Pangus dengan membuat hujan lebat dan membuat kerajaan menjadi banjir dan tenggelam. Walaupun perkawinanya tidak direstui oleh Dewa, ia tetap mencintai istrinya seorang Cina itu. Raja Jaya Pangus akhirnya pergi dan membuat kerajaan baru yang diberi nama kerajaan Balingkang. Nama ini merupakan perpaduan dari kata Bali = bali, dan Kang = Cina. Raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini yaitu Maya Danawa.


Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah, Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.
Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka. Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri  “Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei”  itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.
Mengenai sejarah tari Barong Landung versi lainnya, pada jaman dahulu di suatu desa terjadi musibah, penduduk banyak yang jatuh sakit. Sebagai kepercayaan turun temurun bahwa yang menyebabkan banyak jatuh sakit adalah “leak” pengikut dari ratu jahat berbentuk raksasa besar dari Nusa Penida bernama Ratu Gde Mecaling. Untuk menanggulangi wabah tersebut timbul akal dari seorang pendeta untuk membuat boneka yang menyerupai Ratu Gde Mecaling sebagai pengusir leak tersebut. Apabila Barong Landung ini pergi ngelawang khususnya pada saat ada wabah penyakit atau ada orang berkaul karena telah sembuh dari penyakitnya, karena gangguan Ratu Gde Mecaling dari Nusa Penida dapat diusir. Melihat tari Barong Landung sebagai tarian boneka raksasa yang besar, diberi nama Djero Gde dan Djero Luh. Djero Gde digambarkan sebagai manusia raksasa yang sangat seram dan tertawa terbahak-bahak sedangkan Djero Luh adalah sesosok wanita yang besar bermata sipit tetapi sering lucu. Berdasarkan kepercayaan pada sejarah tersebut, keberadaan Barong Landung tetap hidup dan dipentaskan sampai saat ini. Barong Landung juga dikeramatkan di beberapa pura di Bali salah satunya di Desa Blahbatuh Gianyar karena diyakini mempunyai kemampuan gaib untuk mengusir malapetaka dari segala musibah penyakit.
Di beberapa tempat di Bali ada juga Barong Landung yang lebih lengkap dari pada yang hanya sepasang saja, tetapi ada yang diberi peran seperti Mantri, Galuh, Limbur dan sebagainya. Mereka dipakai sebagai anggota dalam pementasan yang membawakan lakon Arja (terutama didaerah Badung dan Denpasar) dan diiringi dengan gamelan Batel.

Wednesday, October 31, 2012

Pupuh Sinom



  1. Iseng-isengan manyurat (8i)
    Nanging sekare ka Widhi (8a)
    Mangapus Bharatayudha (8a)
    Ninggarang mamunyi Bali (8i)
    Sinampura Dewa Gusti (8i)
    Antuk Ida dane ipun (8u)
    Mamunggelang punang crita (8a)
    Duk Sang Salya Senapati ((8i)
    Sampun puput (4u)
    Kabiseka jaya-jaya (8a)
  2. Ne mangkin kalungang-lungang
    Ortane rauh sujati
    Kaatur ring Sang Pandawa
    Keweh pangeraas mangkin
    Mawinang maminehin
    Sang Kresna nyanggra masaur
    Ngawijilang pangupaya
    Patut pamargine nyilib
    Tur kadauh
    Yogia Ida Sang Nakula.

Tradisi Megeret Pandan (Tenganan)

Upacara sakral Mageret Pandan dilakukan selama tiga hari. Yakni dua hari lalu di lakukan di Bale Patemon (Balai Pertemuan) Selatan, di Bale Patemon Utara dan di Bale Patemon Tengah. Selain memiliki nilai seni yang tinggi upacara yang rutin dilakukan setiap tahun berdasarkan penanggalan khusus ini juga memiliki makna yang berkaitan dengan Usaba Sambeh didesa tersebut. Selain itu, Mageret Pandan atau Perang Pandan juga menjadi sarana latihan ketangkasan seorang prajurit.Menurut masyarakat Tenganan adalah penganut Agama Hindu namun cenderung menganut aliran Dewa Indra sebagai Dewa Perang. Yang terpenting dalam perang pandan tersebut tidak ada menang kalah. Kalau ada yang sampai terluka akibat goresan pandan akan diobati dengan obat yang telah disediakan yang berasal dari cuka kunir dan isen. Tak heran jika Perang pandan ini menjadi tontonan menarik bagi wisatawan lokal dan mancanegara

Source



Wednesday, October 24, 2012

Berkunjung ke Banjar Tangtu


Pada saat pelajaran Budaya Bali pada Kamis, 23 Agustus 2012 lalu, Ibu Sukeni mengajak murid-murid akselerasi kelas X Sekolah Dyatmika  untuk berkunjung ke Banjar Tangtu untuk mengenal salah satu budaya Bali. Banjar adalah pembagian wilayah administratif di Bali yang setara dengan Rukun Warga (RW). Kami memilih mengunjungi Banjar Tangtu karena sekolah kami memasuki daerah Banjar tersebut.

Di Banjar Tangtu, terdapat kepala dusun, pkk, sekaa gong Dharma Putra, sekaa truna-truni Dharma Remaja, sekaa  kidung Dharma Swara, poskamling, pecalang, posyandu, lembaga pendidikan paud (pendidikan anak usia dini) Putra Prima Duta, serta koperasi kecil yang hanya buka pada hari Selasa dan Jumat pada malam hari. Di banjar hanya terdapat 1 toilet dan yang membersihkan disebut dengan kesinoman yang dipiketkan setiap bulan.

Struktur Banjar tersebut dikepalai oleh seorang Kelian Banjar. Beliau yang mengatur tentang desa, tetapi, kelian banjar tidak boleh memutuskan keputusan dengan hendaknya sendiri. Segala masalah harus diputuskan dengan cara musyawarah bersama masyarakat banjar. Pemilihan kepala banjar dilaksanakan setiap 5 tahun sekali dengan cara dipilih.

Di banjar, rapat disebut juga dengan sangkep, dan disinilah mereka bermusyawarah bersama, membahas masalah-masalah, yang dipimpin oleh kelian banjar. Sangkep diadakan setiap Kajeng Kliwon. Jika terdapat rapat dalam keadaan darurat, rapat tersebut tidak lagi dikatakan sebagai sangkep namun dikatakan sebagai samua.

Di dalam banjar terdapat sekertaris yang disebut sebagai penyarikan dan bendahara banjar yang disebut sebagai juru raksa. Secara umum, anggota banjar disebut dengan krama banjar. Uniknya sebuah banjar di Bali ialah mereka tidak menggunakan telepon untuk memanggil warga jika ada sangkep, tetapi mereka menggunakan alat yang dipukul yang disebut kulkul. Di banjar ada bale kulkul yang paling tinggi- pelinggih ratu gede, ada bale kulkul ada yang bulat besar nengneng dikatakan begitu karena suaranya berbunyi “neng neng neng” digunakan untuk seka truna. Kemudian kulkul kecil untuk sekaa gon, dan yang paling besar untuk banjar, untuk komunikasi pada hari tertentu. Contohnya setiap tanggal 5, kulkul PKK dipukul karena ada arisan PKK.

Sekian cerita saya tentang berkunjung ke Banjar Tangtu bersama sekolah.