Wednesday, October 24, 2012

Berkunjung ke Banjar Tangtu


Pada saat pelajaran Budaya Bali pada Kamis, 23 Agustus 2012 lalu, Ibu Sukeni mengajak murid-murid akselerasi kelas X Sekolah Dyatmika  untuk berkunjung ke Banjar Tangtu untuk mengenal salah satu budaya Bali. Banjar adalah pembagian wilayah administratif di Bali yang setara dengan Rukun Warga (RW). Kami memilih mengunjungi Banjar Tangtu karena sekolah kami memasuki daerah Banjar tersebut.

Di Banjar Tangtu, terdapat kepala dusun, pkk, sekaa gong Dharma Putra, sekaa truna-truni Dharma Remaja, sekaa  kidung Dharma Swara, poskamling, pecalang, posyandu, lembaga pendidikan paud (pendidikan anak usia dini) Putra Prima Duta, serta koperasi kecil yang hanya buka pada hari Selasa dan Jumat pada malam hari. Di banjar hanya terdapat 1 toilet dan yang membersihkan disebut dengan kesinoman yang dipiketkan setiap bulan.

Struktur Banjar tersebut dikepalai oleh seorang Kelian Banjar. Beliau yang mengatur tentang desa, tetapi, kelian banjar tidak boleh memutuskan keputusan dengan hendaknya sendiri. Segala masalah harus diputuskan dengan cara musyawarah bersama masyarakat banjar. Pemilihan kepala banjar dilaksanakan setiap 5 tahun sekali dengan cara dipilih.

Di banjar, rapat disebut juga dengan sangkep, dan disinilah mereka bermusyawarah bersama, membahas masalah-masalah, yang dipimpin oleh kelian banjar. Sangkep diadakan setiap Kajeng Kliwon. Jika terdapat rapat dalam keadaan darurat, rapat tersebut tidak lagi dikatakan sebagai sangkep namun dikatakan sebagai samua.

Di dalam banjar terdapat sekertaris yang disebut sebagai penyarikan dan bendahara banjar yang disebut sebagai juru raksa. Secara umum, anggota banjar disebut dengan krama banjar. Uniknya sebuah banjar di Bali ialah mereka tidak menggunakan telepon untuk memanggil warga jika ada sangkep, tetapi mereka menggunakan alat yang dipukul yang disebut kulkul. Di banjar ada bale kulkul yang paling tinggi- pelinggih ratu gede, ada bale kulkul ada yang bulat besar nengneng dikatakan begitu karena suaranya berbunyi “neng neng neng” digunakan untuk seka truna. Kemudian kulkul kecil untuk sekaa gon, dan yang paling besar untuk banjar, untuk komunikasi pada hari tertentu. Contohnya setiap tanggal 5, kulkul PKK dipukul karena ada arisan PKK.

Sekian cerita saya tentang berkunjung ke Banjar Tangtu bersama sekolah.

1 comment:

  1. Laporan tentang Banjar Tangtu sudah Ibu baca....... sangat lengkap infonya seperti apa yang di jelaskan oleh informannya......Oh ya hanya satu kata yang salah ketik yaitu kata Gong diketik gon...... tidak apa dan bisa dimengerti........selamat belajar Budaya Bali.

    ReplyDelete